Menu ✖

Dark Mode
Kapolres Buru Bersama Forkopimda Tinjau Langsung Lokasi PETI Gunung Nona BUPATI BURU DIAM, KEBERATAN DIKABULKAN? Kuasa Hukum Gugat Sikap Bungkam, SK Pengakuan AW sebagai Raja Petuanan Kaiely Dipersoalkan! Langkah Nyata Internasionalisasi Kampus, FKB UBSI Bangun Kolaborasi Akademik di Malaysia Proyek Drainase Rp199,7 Juta di Cilebut Timur Dimenangkan Perusahaan Asal Papua, BPI KPNPA RI Pertanyakan Aturan Afirmasi Bupati, Wakil Bupati, dan Unsur Forkopimda Tinjau Gunung Botak, Awasi Program Penataan dan Pemulihan Pertambangan Petisi 26 Desak Pemkab Bogor Relokasi Pasar Cikema: Soroti Potensi Maladministrasi dan Dugaan Kamuflase Bisnis

Bogor

Heboh di Medsos, Plat Mobil Dinas Jadi Plat Pribadi, Ini Sanksinya

badge-check


					Heboh di Medsos, Plat Mobil Dinas Jadi Plat Pribadi, Ini Sanksinya Perbesar

SAHABAT PEMDA | BOGOR – Media sosial dihebohkan dengan unggahan akun Instagram @jabodetabek24info yang menampilkan foto mobil dinas berpelat merah diduga dipasangi pelat hitam (pribadi).

Mobil tersebut terlihat seperti kendaraan pribadi, padahal merupakan aset milik negara.

Aksi ini mendapat respons publik yang mempertanyakan legalitas dan etika penggunaan pelat nomor palsu pada kendaraan dinas pemerintah.

Setelah informasi tersebut viral, tim redaksi mencoba meminta konfirmasi kepada Ketua BPI KPNPA RI Bogor Raya, Rizwan Riswanto. Melalui sambungan WhatsApp Selasa (20/5), Rizwan memberikan keterangan berdasarkan informasi yang ia terima dari salah satu pejabat Badan Pendapatan Daerah (Bappenda) Kabupaten Bogor, yakni Bapak Itang.

“Berdasarkan keterangan dari Bappenda, pelat tersebut bukan palsu. Katanya, ada surat pengantar dari kepolisian untuk penggunaan nomor cadangan (backup) yang digunakan dalam rangka monitoring dan evaluasi (monev) lapangan,” ujar Rizwan.

Namun, pernyataan tersebut memunculkan pertanyaan hukum yang cukup penting: Apakah penggunaan nomor pelat cadangan atau pelat pribadi pada kendaraan dinas yang seharusnya berpelat merah dibolehkan dalam peraturan perundang-undangan?

Dalam konteks hukum, Pasal 68 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan menyatakan bahwa setiap kendaraan bermotor wajib dilengkapi Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB) yang sesuai dengan registrasi resmi yang ditetapkan Polri.

Bahkan, Pasal 280 UU yang sama menegaskan bahwa penggunaan TNKB yang tidak sesuai ketentuan dapat dikenakan sanksi pidana berupa kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp500.000,00.

Sementara itu, Pasal 263 KUHP mengatur bahwa pemalsuan surat, termasuk pelat nomor kendaraan, dapat dikenakan pidana penjara paling lama 6 tahun.

Rizwan menyatakan bahwa pihaknya tetap akan mengawasi dan mendalami lebih lanjut legalitas dari penggunaan pelat tersebut, serta akan mempertanyakan apakah surat pengantar dari kepolisian memang membenarkan penggantian pelat dinas menjadi pelat pribadi.

“Kami menghormati klarifikasi dari pihak Bappenda, tapi tetap perlu dikaji apakah penggunaan pelat tersebut sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” pungkas Rizwan. (Andi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Proyek Drainase Rp199,7 Juta di Cilebut Timur Dimenangkan Perusahaan Asal Papua, BPI KPNPA RI Pertanyakan Aturan Afirmasi

19 October 2026 - 07:17 WIB

Petisi 26 Desak Pemkab Bogor Relokasi Pasar Cikema: Soroti Potensi Maladministrasi dan Dugaan Kamuflase Bisnis

16 October 2026 - 23:35 WIB

Warga Kelurahan Tengah Pertanyakan Realisasi Drainase Musrenbang 2025 dan Hadiah Kelurahan Terbaik Kabupaten Bogor

16 October 2026 - 02:04 WIB

Betonisasi Jalan Desa Ligarmukti Rp144,6 Juta Disorot, Retakan Bermunculan, Diduga Tak Sesuai Spesifikasi?

15 October 2026 - 14:39 WIB

Reses di Cigudeg, Sastra Winara Serap Aspirasi Warga untuk Pembangunan Kabupaten Bogor

13 October 2026 - 14:03 WIB

Trending on Bogor