SAHABAT PEMDA | BOGOR – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor berencana membangun Tugu Pencak Silat di kawasan Cimande tahun ini. Langkah ini mendapat dukungan penuh dari Ketua DPRD Kabupaten Bogor, Sastra Winara, yang menilai pembangunan tugu tersebut sebagai bentuk konkret pelestarian tradisi budaya warisan leluhur.
Menurut Sastra, Cimande sudah dikenal luas, tidak hanya sebagai pusat seni bela diri pencak silat, tetapi juga sebagai tempat pengobatan tradisional patah tulang. Oleh karena itu, menurutnya, keberadaan tugu tersebut akan memperkuat identitas budaya daerah sekaligus mengangkat nama Cimande di tingkat nasional bahkan internasional.
“Kalau gak salah tahun ini Pemkab Bogor mau bikin Tugu Pencak Silat di Cimande. Beberapa waktu lalu kami bersama Pak Bupati kesana,” kata Sastra Winara saat ditemui pada Sabtu (19/4/25).
Lebih jauh Sastra menjelaskan bahwa Cimande merupakan ikon yang lekat dengan dua hal yang sudah melegenda: seni bela diri pencak silat dan keahlian dalam mengobati patah tulang. Menurutnya, kedua aspek ini menjadi kekayaan budaya yang tidak boleh hilang begitu saja di tengah modernisasi.
“Kalau orang luar taunya Cimande itu silat dan patah tulang, tentu harus kita lestarikan. Banyak sekali yang sakit patah tulang, jatuh, berobat ke Cimande,” ujarnya.
Ia menambahkan, keunikan ini tidak hanya berfungsi sebagai identitas budaya, tetapi juga berpotensi menggerakkan sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat setempat. Sastra berharap, dengan dibangunnya Tugu Pencak Silat, masyarakat lokal semakin bangga dan generasi muda terdorong untuk terus melestarikan seni bela diri tradisional.
“Pencak silat Kabupaten Bogor, tentu kita anggap penting karena ini tradisi budaya dari leluhur,” tegasnya.
Pembangunan Tugu Pencak Silat ini juga diharapkan menjadi simbol penghormatan kepada para sesepuh dan guru besar pencak silat di Cimande, yang selama ini berperan menjaga eksistensi budaya lokal. Sastra menegaskan bahwa DPRD Kabupaten Bogor siap mendukung program-program serupa yang bertujuan memperkuat identitas budaya daerah ke depannya. (red)











