Menu

Dark Mode
BPI KPNPA RI Kabupaten Bogor Mengucapkan Selamat Atas Kelulusan Tamtama Prada Firmansyah Simanjuntak Dugaan Penunjukan Plt Kasubag Kemenag Kabupaten Bogor Tak Sesuai Ketentuan, BPI: Jangan Cederai Sistem Merit ASN Mahmud Hentihu Laporkan Ibrahim Wael ke Polres Buru, Rustam: Kami Akan Kawal Proses Hukumnya Dugaan Pengadaan Desa Tak Sesuai Perbup 116, BPI KPNPA RI Bogor Desak Pemeriksaan Kegiatan DDN dan FSL Ahli Waris dan Masyarakat Adat Serahkan Dukungan Hak Ulayat kepada Koperasi PTB, Rencana Pengelolaan Gunung Botak Menguat Dugaan Mafia Tanah PTSL Bojonggede 2019 Bergulir, Polda Metro Periksa Sekitar 50 Orang

Opini

TJSL untuk Ketahanan Pangan: Saatnya Sarjana Situmbuk Membangun Nagari Melalui Pertanian

badge-check


					TJSL untuk Ketahanan Pangan: Saatnya Sarjana Situmbuk Membangun Nagari Melalui Pertanian Perbesar

Penulis: Ahmad Fauzi Fatahillah
Pengamat Kebijakan Publik
Padang, 7 September 2026

PADANG — Ketahanan pangan tidak selalu harus dimulai dari program berskala besar.

Kadang, jawabannya justru berada di tingkat nagari, ketika masyarakat memperoleh akses terhadap teknologi, pembiayaan, dan pendampingan yang tepat.

Peresmian Pompanisasi Irigasi Tenaga Surya di Nagari Tanjung Barulak, Minggu, 6 September 2026, layak menjadi contoh.

Program “Sumbar Tumbuh, Sumbar Tangguh” melalui TJSL PT PLN UID Sumbar tersebut dilaporkan mampu mengalirkan air untuk sekitar 400 hektare sawah.

Program itu juga disebut memberikan manfaat bagi sekitar 1.700 kepala keluarga.

Sebelumnya, sebagian lahan hanya dapat ditanami sekali karena bergantung pada curah hujan.

Dengan dukungan irigasi, peluang peningkatan intensitas tanam menjadi lebih terbuka.

Bagi saya, inilah salah satu wajah TJSL yang patut diperluas.

Bukan sekadar bantuan sosial, tetapi investasi sosial yang dapat memperkuat produktivitas masyarakat.

Lalu muncul pertanyaan sederhana: bagaimana dengan Nagari Situmbuk?

TJSL Jangan Berhenti pada Bantuan Sosial

Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan atau TJSL selama ini sering dikaitkan dengan bantuan sosial masyarakat.

Program seperti bedah rumah, bantuan fasilitas umum, dan dukungan kegiatan masyarakat tentu tetap penting.

Namun, sektor pertanian memiliki potensi dampak yang lebih panjang.

Ketika sebuah program mampu mengatasi persoalan air, misalnya, manfaatnya tidak berhenti pada satu kegiatan.

Infrastruktur tersebut dapat menjadi modal produksi bagi petani dalam jangka panjang.

Penggunaan energi surya juga membuka peluang pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar konvensional.

Pendampingan perguruan tinggi dapat memperkuat kemampuan petani dalam mengelola teknologi tersebut.

Model seperti ini menunjukkan bahwa TJSL dapat diarahkan menjadi bagian dari strategi pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Tentu, keberhasilannya tetap bergantung pada desain program, pengelolaan, pengawasan, dan kemampuan masyarakat mempertahankannya.

Situmbuk dan Tantangan Generasi Muda

Situmbuk memiliki modal penting berupa lahan, sumber daya air, serta sumber daya manusia.

Persoalannya kemudian adalah bagaimana modal tersebut dikelola menjadi kekuatan ekonomi nagari.

Generasi muda menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

Pertanian sering kali masih dipandang sebagai pekerjaan tradisional dengan risiko tinggi dan keuntungan terbatas.

Pandangan itu sebenarnya dapat berubah ketika pertanian dipadukan dengan teknologi.

Pertanian modern membutuhkan kemampuan mengelola data, pemasaran digital, teknologi produksi, hingga manajemen usaha.

Dengan pendekatan tersebut, anak muda tidak harus meninggalkan pertanian.

Mereka justru dapat membawa kemampuan baru ke sektor yang selama ini dianggap konvensional.

Bayangkan jika potensi TJSL dapat diarahkan untuk membangun pompanisasi tenaga surya.

Atau dikembangkan menjadi greenhouse untuk komoditas hortikultura.

Bahkan, dapat dibentuk kelompok usaha seperti “Tanipreneur Situmbuk” yang memanfaatkan pemasaran digital.

Gagasan tersebut tentu membutuhkan kajian teknis dan ekonomi.

Namun, gagasan besar memang selalu bermula dari keberanian untuk melihat potensi yang tersedia.

Sarjana Situmbuk Tidak Harus Menunggu

Menurut saya, peran sarjana asal Situmbuk dapat menjadi penting dalam proses tersebut.

Mereka memiliki akses pengetahuan, jejaring, dan kemampuan menyusun perencanaan.

Karena itu, mereka dapat mengambil peran sebagai penghubung antara kebutuhan masyarakat dan berbagai sumber dukungan.

Sumber dukungan tersebut bisa berasal dari pemerintah, BUMN, BUMD, perusahaan swasta, maupun perguruan tinggi.

Yang dibutuhkan bukan sekadar permohonan bantuan.

Situmbuk perlu datang dengan data dan proposal yang terukur.

Berapa luas sawah tadah hujan?

Di mana sumber air tersedia?

Berapa kebutuhan pompa dan kapasitas energinya?

Berapa jumlah petani yang akan menerima manfaat?

Komoditas apa yang paling potensial?

Bagaimana model pengelolaannya setelah bantuan diberikan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut justru menjadi fondasi proposal yang kuat.

Pintu Dukungan Sudah Ada

Secara kelembagaan, terdapat sejumlah pihak yang secara potensial dapat menjadi mitra.

PT PLN UID Sumbar memiliki program TJSL yang dapat dikaitkan dengan energi dan pemberdayaan masyarakat.

PT Semen Padang juga memiliki program kepedulian sosial dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

PT Bank Nagari dapat menjadi salah satu pihak yang dijajaki untuk penguatan pembiayaan kelompok usaha.

Sementara itu, sektor pupuk dan sarana produksi juga memiliki ruang untuk mendukung produktivitas pertanian.

Pemerintah daerah tentu menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Barat dapat menjadi pintu koordinasi program pertanian.

Bappeda Kabupaten Tanah Datar dapat dilibatkan dalam perencanaan pembangunan.

Dinas terkait juga dapat mendukung aspek kelembagaan, koperasi, dan pengembangan kelompok masyarakat.

Perguruan tinggi pun memiliki posisi strategis.

Universitas Andalas, misalnya, dapat menjadi mitra dalam aspek teknologi, kajian kelayakan, dan pendampingan.

Pengalaman pendampingan di Tanjung Barulak dapat menjadi bahan pembelajaran bagi nagari lain.

Namun, tentu saja, replikasi program tidak bisa dilakukan hanya dengan meniru.

Kondisi geografis, kebutuhan air, karakteristik lahan, komoditas, serta kemampuan masyarakat harus dianalisis terlebih dahulu.

Empat Langkah yang Bisa Dimulai

Menurut saya, ada empat langkah sederhana yang dapat dipertimbangkan masyarakat Situmbuk.

Pertama, lembagakan.

Bentuk kelompok tani muda atau kelompok usaha pertanian yang memiliki struktur dan legalitas jelas.

Legalitas akan memudahkan kelompok membangun komunikasi dengan pemerintah dan calon mitra.

Kedua, datakan.

Petakan lahan, sumber air, kebutuhan irigasi, jumlah petani, serta potensi komoditas.

Data yang akurat akan membuat proposal jauh lebih meyakinkan.

Ketiga, proposal-kan.

Susun proposal dengan tema seperti “Nagari Situmbuk Mandiri Pangan 2027.”

Proposal tersebut dapat memuat persoalan, solusi, kebutuhan anggaran, target penerima manfaat, dan mekanisme pengelolaan.

Pengalaman Tanjung Barulak dapat digunakan sebagai referensi pembelajaran.

Keempat, gerakkan.

Komunikasi dapat dimulai dari pemerintahan nagari, kecamatan, pemerintah daerah, DPRD, BUMN, BUMD, dan perguruan tinggi.

Yang terpenting, pendekatannya harus berbasis data dan kebutuhan masyarakat.

Media sosial juga dapat digunakan untuk memperkenalkan gagasan tersebut secara positif dan konstruktif.

Panggilan Pulang

Bagi sarjana Situmbuk yang berada di perantauan, membangun nagari tidak selalu berarti harus meninggalkan pekerjaannya.

Kontribusi dapat dilakukan melalui pengetahuan, jejaring, teknologi, pendampingan, maupun investasi.

Namun, jika ada generasi muda yang memilih kembali ke nagari, peluang tersebut juga patut diapresiasi.

Pertanian hari ini tidak harus identik dengan cara-cara lama.

Sawah dapat bertemu teknologi.

Cangkul dapat berjalan bersama laptop.

Petani dapat menjadi pengusaha.

Dan nagari dapat menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda.

Program TJSL juga dapat menjadi salah satu instrumen untuk mewujudkan gagasan tersebut.

Tentu bukan berarti semua persoalan pertanian dapat diselesaikan melalui TJSL.

Tetapi, ketika TJSL diarahkan pada kebutuhan produktif, manfaat sosialnya berpotensi menjadi lebih panjang.

Pengalaman Tanjung Barulak setidaknya memberikan sebuah pelajaran.

Jika sebuah nagari mampu mengubah persoalan air menjadi peluang produksi, nagari lain pun layak memikirkan kemungkinan yang sama.

Bagi Situmbuk, pertanyaannya bukan sekadar “siapa yang akan membantu?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Apa yang sudah kita siapkan ketika peluang itu datang?”

Ketahanan pangan pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang produksi.

Ia juga berbicara tentang keberanian generasi muda melihat pertanian sebagai masa depan.

Wallahu a’lam bishawab.

Sumber Referensi

  1. Andalas Time, “Puluhan Tahun Menanti, Pompanisasi Tenaga Surya Kini Alirkan Air ke 400 Hektare Sawah Tanjung Barulak”, 6 September 2026.
  2. Padangtime.com, “Pompanisasi Tenaga Surya Hadir di Tanjung Barulak, Harapan Baru untuk Petani Tanah Datar”, 6 September 2026.
  3. Konstruksi Media, “UNAND Hadirkan Irigasi Tenaga Surya Pertama di Tanjung Barulak”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

OPINI : Ketika Gas 3 Kg Menjadi Barang Mewah bagi Warga Kolaka

11 June 2026 - 04:48 WIB

OTT KPK di Desember 2025: Alarm Keras bagi Daerah, Kabupaten Bogor Harus Belajar

19 December 2025 - 01:54 WIB

Hujan, Mager dan Teori Honey Trap dalam Dunia Politik

9 February 2025 - 03:12 WIB

Kemanakah Penegak Hukum di Kabupaten Bogor?

9 January 2025 - 03:06 WIB

BPI KPNPA Bogor
Trending on Bogor